JAKARTA - Keputusan strategis dilakukan Roy Mukhlis. Petinju asal sasana Bank Buana Semarang itu memutuskan meninggalkan sabuk juara kelas ringan junior (58,9 kg) versi Pan Asia Boxing Association (PABA). Sebagai ganti, dia membidik gelar WBC International yang sedang lowong.
Untuk menjadi juara kelas ringan junior WBC International, dia rencananya menjalani pertandingan melawan pemegang sabuk juara kelas ringan junior versi IBO Aspac Simson Butar Butar pada 30 Januari mendatang di Jakarta. Kemenangan itu cukup strategis bagi Roy. Sebab, jika menang, dia minimal akan masuk peringkat ke-15 WBC.
Semula, pertarungan yang dijadwalkan berlangsung 12 ronde tersebut dilaksanakan pada 31 Desember mendatang di Semarang, Jateng. Namun, rencana tersebut diundur menyusul pertemuan antara promotor Temuzin Rambing, Sutan Rambing (pelatih dan manajer Roy Mukhlis), dan promotor Soeryo Goeritno.
''Pertarungan ditetapkan pada 30 Januari 2009 karena sekaligus untuk memperingati hari ulang tahun Pak Soeryo (Goeritno),'' kata Temuzin kepada Jawa Pos kemarin (25/12).
Lantas, kenapa Roy meninggalkan gelar PABA? Itu disebabkan waktu pertarungan melawan Simson nanti berdekatan dengan mandatory fight yang harus dia lakoni di PABA. Selain itu, Soeryo selama ini dikenal tidak sejalan dengan WBA yang merupakan afiliasi dari PABA. Penyebabnya adalah kasus pembatalan pertarungan pilihan (choice) antara juara dunia kelas bulu (57,1 kg) WBA Chris John melawan Jackson Asiku (Uganda) pada 27 Juli lalu di Jakarta. Pria kelahiran Blitar Jawa Timur itu, yang merasa tidak bersalah, akhirnya membawa kasus batalnya pertarungan Chris John lawan Jackson Asiku ke jalur hukum. Hingga sekarang, kasus tersebut masih ditangani tim penyidik Polda Metro Jaya.
Soeryo adalah salah seorang promotor yang memiliki sumber dana tinggi di Indonesia. Itu sangat diperlukan Roy guna mendapatkan banyak jadwal pertarungan demi menembus peringkat WBC yang merupakan syarat untuk menantang juara dunia.
Soeryo pun mantap memilih jalur WBC untuk Roy karena salah seorang pengurusnya, Chandru G. Lalwani, adalah orang Indonesia. Dia bertugas di bidang keuangan organisasi badan tinju dunia tertua kedua setelah WBA itu.(ado/ang)
Source : Jawapos (Jum'at, 26 Desember 2008 )
Thursday, December 25, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment